Produktif Menulis Kitab
Salah satu warisan terpenting Syekh Nawawi al-Bantani adalah karya tulisnya. Ia menulis dalam berbagai bidang keislaman, seperti tafsir, fikih, tauhid, tasawuf, akhlak, hadis dan bahasa Arab.
Jumlah pasti karya Syekh Nawawi berbeda dalam berbagai catatan. Ada sumber yang mencatat puluhan karya, sementara sumber lainnya menyebut jumlah yang lebih banyak. Perbedaan tersebut dapat terjadi karena sebagian judul dihitung sebagai kitab mandiri, syarah, komentar atau naskah yang memiliki variasi nama.
Karena itu, pernyataan yang paling aman dan dapat dipertanggungjawabkan adalah bahwa Syekh Nawawi merupakan ulama yang sangat produktif dan menghasilkan puluhan karya keislaman.
Beberapa karya yang dikenal luas antara lain:
- Marah Labid atau Tafsir al-Munir, sebuah karya tafsir Al-Qur’an;
- Nashaihul ‘Ibad, yang membahas nasihat, akhlak dan pembinaan rohani;
- Maraqi al-‘Ubudiyyah, mengenai adab dan penyempurnaan ibadah;
- Nuruz Zalam, yang berkaitan dengan ilmu tauhid;
- Nihayatuz Zain, salah satu karya dalam bidang fikih.
Koleksi Perpustakaan Nasional menunjukkan bahwa beberapa karya Syekh Nawawi masih diterbitkan dan dibaca dalam edisi terjemahan maupun kajian kontemporer.
Karyanya Terus Dipelajari di Pesantren
Pengaruh Syekh Nawawi tidak berhenti setelah wafatnya. Kitab-kitabnya terus digunakan dalam tradisi pendidikan pesantren, madrasah dan kajian keislaman.
Karya-karyanya memiliki kedudukan penting karena mampu menjelaskan pembahasan agama yang kompleks secara sistematis. Kementerian Agama menilai salah satu keteladanan Syekh Nawawi adalah kemampuannya menyampaikan ilmu sesuai dengan tingkat pemahaman pembacanya.
Hal tersebut membuat kitab-kitabnya dapat dipelajari oleh berbagai kelompok, mulai dari santri tingkat dasar hingga pelajar yang mendalami bidang keislaman secara khusus.
Tradisi membaca dan mengkaji karya Syekh Nawawi juga menunjukkan bahwa literasi telah menjadi bagian penting dari sejarah masyarakat Banten. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten bahkan menyebutnya sebagai figur penting dalam pengembangan semangat literasi masyarakat dan ulama Banten.
Melahirkan Jaringan Ulama Nusantara
Pengaruh Syekh Nawawi juga terlihat melalui hubungan keilmuan dengan ulama-ulama Nusantara. Sejumlah penelitian memasukkan KH Hasyim Asy’ari, KH Kholil Bangkalan, KH Asnawi Kudus dan beberapa tokoh lain dalam jaringan murid atau penerus keilmuannya.
Jaringan tersebut berperan dalam perkembangan pesantren dan penyebaran pendidikan Islam di berbagai daerah Indonesia. Ilmu yang diajarkan di Makkah kemudian dibawa kembali oleh para pelajar ke daerah masing-masing.
Dari sinilah pengaruh Syekh Nawawi berkembang jauh melampaui tempat kelahirannya. Ia menjadi salah satu penghubung penting antara tradisi keilmuan Timur Tengah dan sistem pendidikan pesantren di Nusantara.





