JAWARABANTEN – Banten bukan hanya dikenal sebagai tanah para jawara. Daerah di ujung barat Pulau Jawa ini juga melahirkan banyak ulama, pendidik dan pemikir yang memberi pengaruh besar terhadap perkembangan Islam di Indonesia.
Salah satu tokoh Banten yang namanya dikenal hingga tingkat internasional adalah Syekh Nawawi al-Bantani. Ulama asal Tanara, Kabupaten Serang, tersebut meninggalkan warisan intelektual yang terus hidup melalui kitab-kitab, jaringan pendidikan dan para muridnya.
Syekh Nawawi tercatat sebagai bagian penting dari jaringan ulama Nusantara di Makkah pada abad ke-19. Ia tidak hanya menimba ilmu, tetapi juga menjadi pengajar yang didatangi pelajar dari berbagai daerah dan negara. Penelitian akademik UIN Jakarta menyebutnya sebagai salah satu pengajar di Masjidil Haram setelah menjalani proses belajar yang panjang bersama sejumlah ulama di Makkah.
Lahir dari Tanara, Banten
Syekh Nawawi memiliki nama lengkap Muhammad Nawawi bin Umar bin Arabi. Sejumlah sumber akademik mencatat ia lahir di Tanara, Banten, pada 1813 dan wafat di Makkah pada 1897. Tanara saat ini berada di wilayah Kabupaten Serang, Provinsi Banten.
Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang dekat dengan pendidikan agama. Ayahnya, Umar bin Arabi, dikenal sebagai seorang alim di daerahnya. Pendidikan agama yang diterimanya sejak kecil menjadi fondasi bagi perjalanan intelektualnya pada masa berikutnya.
Dari sebuah daerah di Banten, Syekh Nawawi kemudian melakukan perjalanan panjang untuk memperdalam ilmu agama. Keputusannya menuntut ilmu hingga ke pusat keilmuan Islam memperlihatkan bahwa keterbatasan geografis tidak menjadi penghalang bagi seseorang untuk menghasilkan pengaruh besar.
Menjadi Pengajar Berpengaruh di Makkah
Perjalanan Syekh Nawawi menuju Makkah bukan sekadar perjalanan ibadah. Di sana, ia belajar dalam waktu panjang, membangun jaringan keilmuan dan kemudian dikenal sebagai pengajar bagi komunitas Muslim internasional.
Sumber akademik menyebut Syekh Nawawi memulai karier sebagai salah satu pengajar di Masjidil Haram setelah belajar kepada sejumlah ulama selama puluhan tahun. Murid-muridnya berasal dari berbagai wilayah, termasuk Nusantara.
Sejumlah publikasi pemerintah menyebut Syekh Nawawi sebagai ulama Indonesia bertaraf internasional dan pernah menjadi imam di Masjidil Haram. Namun, untuk menjaga ketepatan sejarah, penyebutan yang paling konsisten dalam kajian akademik adalah bahwa ia merupakan ulama dan pengajar berpengaruh di lingkungan Masjidil Haram.
Kedudukannya di pusat keilmuan Islam menunjukkan bahwa ulama asal Banten mampu memperoleh pengakuan melalui keluasan ilmu, kemampuan mengajar dan produktivitas menulis.





